Pluralisme Agama di ITB


Satu lagi yang disoroti di kampus kita tercinta ini.

2011 harus tahu ini. Apapun resikonya!

Bagi umat Islam, pluralisme agama adalah sesuatu hal yang haram dan secara eksplisit menganggu unsur akidah (dasar ketuhanan). Juga bagi agama lainnya, pluralisme agama dicap sebagai momok menakutkan yang menghilangkan fanatisme agama sehingga akhirnya akan menggerus istilah “taat” beragama.

Kok bisa? Apa sih pluralisme itu?

Pluralisme, dari apa yang biasa kita kenal adalah sebuah paham yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama. Dalam pengertian ini, ada dua aliran besar terkait pluralisme agama. Yang pertama adalah pluralisme agama mazhab John Hick dengan Global Theology nya, dan pluralisme agama aliran lain yaitu Transendensi Agama dengan pengusungnya Nasr Hamid Abu Zayd dkk.

Dari sejarahnya di Barat, pluralisme agama lahir sebagai sebuah reaksi atas eksklusivisme Katolik yang menurut John Hick menjadi sebab utama konfilk antar umat beragama ketika itu. Karena dianggap, fanatisme agama adalah sebab timbulnya konflik, maka tercetuslah ide bagaimana agar seluruh umat beragama, khususnya katolik dan kristen, dapat lebih menghormati dan menghargai agama lain yang tak sejalan. Tujuannya sungguh mulia, yakni demi terciptanya sebuah kerukunan antar umat beragama.

Namun sayang, tujuan yang sesungguhnya mulia ini, rupanya tak semulia jalan yang ditempuhnya. Alih-alih ingin memperbaiki tata dunia baru dalam beragama, tapi yang terjadi justru menghinakan semua keyakinan seseorang dalam agama. Bertujuan ingin lebih saling menghormati, tapi dengan jalan menyamaratakan semua keyakinan dan menghancurkan semua pondasi keimanan dalam agama.

Pluralisme agama pun kemudian dikecam, tak saja oleh ulama-ulama Islam, bahkan oleh Gereja yang telah mengharamkan ideologinya. Tak lain karena, seperti apa yang disebut oleh Adian Husaini, bahwa pluralisme agama notabenenya adalah musuh agama-agama. Tak heran bila kemudian yang terjadi adalah berkurangnya keimanan dan praktik ibadah di kalangan umat. Karena pikir mereka, toh buat apa beribadah formal, karena semua agama tujuannya sama.. tak ada beda antara Kristen dan Islam, semuanya menuju pada kebenaran yang sama, dan The Real yang sama.

Faktanya saat ini, sering kita dengar pendapat orang, “Gak penting itu halal haram, yang penting bila kita telah menyebarkan kebaikan dan kebajikan sosial, maka itu sudah lebih dari cukup, dibanding hanya sholat, ke gereja, dan semisalnya.” Lambat laun bisa jadi, kalimat Nietzhe akan semakin terdengar gaung kerasnya di bumi pertiwi, “God is dead.”

Ujung-ujungnya, menjadi atehis.

Dengan pluralisme agama, satu sama lain akan saling bingung tentang agamanya sendiri. Karena jelas setiap agama itu berbeda, menuju titik akhir berbeda dan dengan jalan yang berbeda. Namun dengan pluralisme agama, semua di-fatamorgana-kan sama. Bagaimana bisa umat Islam mengakui kebenaran kristen yang (maaf) menyebut Nabi Isa sebagai Tuhan, dan juga bagaimana umat kristen mengakui kebenaran Islam yang (maaf) menyebut Yesus hanyalah manusia biasa utusan Tuhan? Sudah jelas, tidak mungkin bisa dicampur aduk. Sekali lagi, masing-masing punya ajarannya masing-masing.

Jika kita menyebut semua agama benar. Maka sesungguhnya kita telah bingung dan tersesat. Lagi-lagi, ujung-ujungnya menjadi atehis.

HATI-HATI

Jangan anda dibingungkan dengan alasan TOLERANSI di balik penyebaran pluralisme ini. Jika anda berbicara toleransi antarumat beragama, maka anda berbicara mengenai pluralitas agama, bukan pluralisme agama.

Pluralitas agama itu sebuah tindakan yang mengakui adanya keberagaman agama. Dimana pengakuan ini ditunjukan dengan sikap saling menghormati satu sama lain dan menghargai perbedaan yang timbul di antaranya. Jelas inilah yang dimaksud toleransi.

Sedikit mengoreksi materi PROKM tentang kebangsaan. Sila pertama pada Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa” tidak berarti bahwa semua agama sama. Itu hanya sebuah sila yang menunjukan bahwa masyarakat Indonesia itu religius, dan fitrahnya menyembah pada satu Tuhan. Tuhan yang berbeda sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masing-masing agama. Ada border tiap agama yang kuat dan tidak bisa dilebur, yang barang tentu kita harus menghormatinya.

Semoga artikel ini dapat menjadi benteng mahasiswa baru melawan pluralisme agama di ITB.

19 thoughts on “Pluralisme Agama di ITB

  1. nggak cuma di itb, sekulerisme dan pluralisme emang udah menjamah di mana2 termasuk kampus yg memakai embel2 islam seperti uin dll.. menurut saya ini memang agenda yg dipolitisir oleh pihak berwenang buat mewujudkan ‘bhineka tunggal ika’ dan nasionalisme dgn cara yg salah tentunya

  2. menanggapi sila pertama pancasila yang sebenarnya dua arti (dari mamet proKM2011) bisa dalam arti esa yang artinya satu (polynesia) dan arti lain dari sanskerta yang artinya mutlak.
    meninjau dari arti ke dua bisa dipastikan bahwa semua agama memenuhi sila pertama di pancasila, hanya meninjau ulang bahwa esa yang selama ini ditekankan bahwa esa adalah satu, bisa juga berarti mutlak.

    • Tidak smua orang punya pandangan “jelas” seperti anda. Dan ketika anda menganggap pandangan anda “jelas”, bukan berarti realitanya anda sudah mendapatkan pandangan yg jelas.🙂
      Dengan kata lain, sebelum membuktikan bahwa plurarisme sesat atau tidaknya, perlu dibuktikan dulu,
      “apakah pandangan anda benar-benar sudah jelas? “

  3. I don’t know what the “true face of Islam” is. No one does.

    The “true face” is whatever a Muslim thinks it is, whether or not that’s a majority opinion, a minority opinion, or an opinion held by just one person.

    The question raises another question: are all religious beliefs valid for all time, or are they reflections of the time and place in which they were first raised?

    Christianity and Judaism have determined that the origins of their religions and values expressed in their holy writings are subject to reinterpretation. Homosexuals and adulterers are no longer stoned to death, for instance. Animal sacrifice has gone by the wayside.

    Reinterpretation within Islam is more complicated, however. Unlike the Jewish and Christian holy books — which are mostly acknowledged as having been the works of man, inspired by the deity — the Quran is considered to be the literal word of God, given directly to Mohammed. Contradicting what God say is, of course, a difficult and potentially dangerous path.

    A confounding factor is that much of what we “know” about the life of Mohammed is not a result of contemporaneous biography. Stories about him, his life, and how he dealt with things are included in the Hadith, many of which were not written down until a hundred or more years after his death. Islamic scholarship has a system of assessing the reliability of the stories based on isnad, or the chain by which the stories have been related.

    Hadith are not considered to be the word of God, but many Muslims treat them as such. This is highly problematic as not only are there contradictions among them, but if they are considered infallible, then there is no possibility of assessing them, criticizing them, re-interpreting them.

    The result is a textual religion and culture that may be based in part on erroneous information in the hadith.

    The Quran itself says nothing about a lot of things we supposedly “know” about Mohammed and his life, including his marriages, his treatment of others, the acquisition of territory (most of which, btw, took place after his death).

    Given the lack of certainty about what the actual core of Islam is, there have been many different manifestations of belief. What is acceptable to some Muslims is utterly forbidden to others and vice versa. This makes it impossible to usefully describe “the true face of Islam.” At best, you can see how most Muslims approach a topic, keeping in mind that there may be millions of others who approach it differently.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s